Sejarah Cagiva GP500, Motor Dengan Design Paling Eksotis Di Kelas Premiere | ILAjava.com ILAjava - Blog seputar otomotif roda 2.

Sejarah Cagiva GP500, Motor Dengan Design Paling Eksotis Di Kelas Premiere


ILAjava.com | Membahas motor-motor pada jaman keemasan GP500 memang seakan ga ada habisnya. Banyak motor-motor 2tak powerfull dengan design cantik nan eksotis yang berlaga pada ajang itu. Dan salah satu motor yang menurut saya mempunyai design paling eksotis diantara motor GP500 lainnya adalah Cagiva. Pabrikan asal Italia ini tercatat ikut turut berpartisipasi pada ajang World GP500 sejak tahun 1980an hingga 1994. Cagiva GP500 mempunyai nama atau kode sendiri-sendiri setiap tahunnya sesuai dengan tahun motor itu berkompetisi. Misal Cagiva C586, artinya motor tersebut dipakai untuk kompetisi musim balap tahun 1986. Ya sama seperti motor MotoGP bike Ducati saat ini. 

Sejarah Cagiva GP500 bermula di awal tahun 80an saat baru terjun ke ajang GP500. Cagiva saat itu masih memakai mesin 2tak inline 4 silinder. Namun mesin ini masih inferior hingga belum mampu memberikan poin bagi tim Cagiva. Mereka melihat Suzuki RG500 -Gamma dengan mesin Square fournya cukup sukses di sirkuit dan akhirnya mencoba meriset mesin dengan konfigurasi yang sama. Namun lagi-lagi mesin ini belum mampu memberikan sumbangan poin yg signifikan bagi tim karena hanya mampu memberikan 1 poin saja bagi Cagiva pada musim 1983. Hingga akhirnya seperti Suzuki, Cagiva memutuskan meninggalkan mesin Square Four dan diganti dengan V-4 engine pada 1986. Cagiva merombak total sektor mesin dan memakai mesin 2tak konfigurasi V-4 80 derajat, big bang. Output maksimal mesin ini mencapai 177HP @12.600 rpm di ban belakang dengan torsi maksimal 105 N.m  @12.300 rpm. Dengan penggunaan rangka twin spar hybrid atau penggabungan material alumunium dan carbon fibre membuat bobot motor hanya 122 kg saja. Penggabungan power dan bobot yang ringan membuat motor ini mampu melesat lebih dari 300 km/h dengan mudah. 

Ditengah keterpurukan Cagiva,datanglah bantuan dari King Kenny Robert Sr. Juara dunia GP500 3 kali berturut-turut tahun 1978-1980 ini mencoba menolong Cagiva dan melihat kesalahan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Cagiva tidak mampu bersaing dengan barisan terdepan di GP500. King Kenny pun akhirnya mencoba menjajal Cagiva GP500 itu memutari beberapa lap sirkuit. Yang mengherankan catatan lap time Kenny Robert kala itu hanya terpaut 1 detik dari best lap Freedie Spencer yang menunggang motor pabrikan Honda NS500. Disini bisa disimpulkan sebenarnya motor Cagiva tidak terlalu buruk. Ditangan sang juara dunia Kenny Robert, nyatanya Cagiva bisa melesat cukup cepat. Tim Cagiva akhirnya bisa menarik kesimpulan dengan mencari pembalap bagus motor bisa terus melakukan improvement positif kedepannya. 

Tahun 1986, Cagiva mengontrak pembalap asal Spanyol Juan Carriga. Selama musim 1986 berlangsung Cagiva C586 hanya mampu mendulang 4 poin saja dan berada di peringkat 17 hingga akhir musim. Namun setidaknya di musim perdana Cagiva menggunakan mesin V4 engine ini, pengembangan motor sudah menuju ke arah positif. Selanjutnya pada musim 1987 Cagiva merekrut pembalap Prancis Raymond Royche dan berhasil mengumpulkan 21 poin di akhir musim. Cukup baik dari pada musim sebelumnya, namun masih belum sesuai dengan ekspektasi dari tim Cagiva. 

Akhirnya datang lagi bantuan dari king Kenny Robert Sr untuk Cagiva dengan memperkenalkan Randy Mamola sebagai rider. Randy Mamola di ajukan King Kenny kepada Cagiva sebagai rider sekaligus untuk membantu mengembangkan motor Cagiva GP500. Ditangan pembalap asal Amerika ini, Cagiva akhirnya mempunyai nama yang cukup diperhitungkan di barisan motor-motor papan atas GP500 lainnya yang kala itu di dominasi pabrikan Jepang. Tercatat, selama 3 musim Randy Mamola menjadi rider Cagiva dari tahun 1988-1990 sebelum akhirnya digantikan oleh Eddie Lawson pada 1991. 


Di tangan Eddie Lawson juara dunia 4 kali GP500 ini ,Cagiva terus mendapat improvement positif. Pada Cagiva C591 ini tercatat sudah dibekali ECU canggih, suspensi electronic semi-aktif dari Ohlins, velg marchesini, rem monoblock Brembo dengan carbon disk, serta traction control yang masih eksperimental .Yup, Cagiva C591 ini sudah dibekali control traksi sederhana yang cara kerjanya dengan mematikan pengapian pada 1 atau 2 silinder untuk mengurangi spin pada ban belakang. Motor GP500 memang terkenal dengan slide pada ban belakangnya saat keluar tikungan. Ini terjadi lantaran tidak adanya management power delivery dari mesin ke ban belakang. Ketika pembalap membuka gas terlalu dalam, ban mendapat power berlebih hingga terjadi spin dan yang paling buruk adalah high side yang akan melempar pembalapnya terbang. Ini yang membuat motor-motor GP500 menjadi motor yang paling sulit "dijinakan" di lintasan. Memakai Cagiva C591 ini ,Eddie Lawson mampu meraih podium serie GP500 Italia. Sedangkan pada 1992 memakai Cagiva C592, Eddi Lawson mampu juara pertama di serie GP500 Hungarian. Ini merupakan rekor kemenangan pertama bagi Cagiva. 

Memasuki musim 1993, Cagiva mengontrak John Kocinski sebagai rider. Menunggang Cagiva C593, Kocinski mampu juara GP serie Amerika di sirkuit Laguna Seca. Kesuksesan Cagiva terus menanjak dimusim selanjutnya. Tahun 1994, John Kocinski yang memakai Cagiva C594 mampu mendapatkan banyak podium yang mengantarkannya duduk di posisi 3 pada klasemen akhir musim. Pada tahun ini Cagiva memakai swing arm dari carbon fibre yang biaya pembuatannya mencapai 100.000$ kala itu. 

Sayang, ibarat bunga yang mulai mekar memasuki musim 1995 Cagiva justru memutuskan mengundurkan diri dari partisipasinya di ajang GP500. Masalah finansial menjadi alasan mereka keluar dari ajang balap paling bergengsi itu. Praktis dengan hal ini pengembangan motor GP500 dari Cagiva juga berhenti. 
Sempat ada ide dari Giovanni Castiglioni yang merupakan owner dari Cagiva dan Mv Agusta untuk memproduksi secara terbatas Cagiva C594 ini sebagai motor track use only. Ia memiliki ide untuk memasangkan mesin V-4 2stroke C594 yang memiliki power 197 HP itu ke rangka MV Agusta F3. Sayang entah kenapa ide itu urung direalisasikan. 
Itulah sedikit sejarah Cagiva GP500, motor dengan design paling eksotis  di kelas premiere.
Semoga bermanfaat. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Cagiva GP500, Motor Dengan Design Paling Eksotis Di Kelas Premiere "